Walikota Surabaya Tekankan Dedikasi Dalam Mendidik

KBRN, Surabaya : Ir. Tri Rismaharini M.T yang juga merupakan Wali Kota Surabaya dipercaya untuk menyampaikan materi mengenai  “Mengubah Kota Surabaya melalui Pendidikan” dalam Kuliah Tamu “The Spirit of Dedication and Service in Religiously-Affiliated Schools” yang diadakan oleh Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

Tri Rismaharini yang sangat peduli dengan pendidikan di Surabaya berusaha membuat pendidikan yang merata bagi masyarakat.Terbukti dengan adanya  program pembangunan 1000 perpustakaan di surabaya, pembaharuan gedung-gedung sekolah menjadi lebih modern dan nyaman untuk proses belajar, dan mengumpulkan anak-anak berkebutuhan khusus hingga mereka bisa membuat pameran lukisan di Malaysia dan Paris.

Wali Kota Surabaya ke-23 tersebut juga menceritakan bagaimana menemukan anak-anak jalanan yang terkenal nakal dan mengumpulkan mereka menjadi tim sepak bola Garuda Baru Indonesia  yang berhasil meraih medali perak dalam Street Child World Cup di Brasil.

“Negara ini tidak akan pernah maju kalau kualitas SDM pendidikannya jelek, yang perlu diingat adalah jangan pernah memaksa anak didik untuk menjadi sama seperti kita karena mereka memiliki potensi masing-masing. Anak yang tidak pandai dalam akademis bukan berarti tidak bisa sukses, dia punya kemampuan sendiri dan tugas kita adalah mengarahkannya,” papar Tri Rismaharini.

“Anak didik juga sudah harus diajarkan untuk berempati terhadap sesama teman sejak dini karena jika tidak nantinya akan menjadi orang yang mengerikan dan tidak peduli dengan sesama.”

Sejalan dengan pemaparan Tri Rismaharini, Khairiana Zainal Abiden (Mdm), Med (NIE/NTU) selaku Principal (Kepala Sekolah Madrasah) Al Junaid Islamic School Singapore yang hadir sebagai pemateri juga menyampaikan, “Kita sering lupa. Saat mengajar, makin lama makin merasa pintar, metode sudah pasti benar. Lupa kita ini produk 20 tahun lalu, kalau kita mau produk yang bagus untuk 20 tahun ke depan, yah mana bisa sama? Kita yang harus ingat, kita yang harus berubah”.

Lebih lanjut Khairiana menambahkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi bagian dari perubahan. Seorang guru harus selalu berefleksi, apakah sudah menjadi seorang guru yang tulus dan ikhlas dalam mendidik anak-anaknya. Anak-anak yang dididik dengan tulus dan ikhlas tidak hanya akan menjadi pandai dalam ilmu, tapi juga memiliki akhlak yang baik. “Janganlah kita mengarahkan perubahan tanpa menjadi bagian di dalamnya. Jangan bicara semua harus berubah tapi sendirinya sibuk mencari uang di tempat lain, memimpinlah dengan contoh,” ujarnya dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih.

“Sebagai institusi yang menerapkan kurikulum khusus untuk pendidikan Islami, sekolah kami tidak dibantu pendanaan oleh pemerintah. Gaji yang kecil itu sudah pasti, bahkan untuk membiayai tiket pesawat siswa siswi kami berlomba ke Australia, kami harus berjualan sate goreng dulu selama enam bulan. Kita tetap harus mampu menjadi ayah dan ibu bagi murid-murid kita. Kita harus punya semangat mendidik, bukan hanya mengajar. Keikhlasan dalam mendidik dan mendampingi siswa-siswi kita saat belajar tahap demi tahap itulah yang akan diingat selain ilmu yang kita berikan pada mereka,” urainya.

Di akhir acara Khairina berpesan, “Kita datang dari sekolah religius, setiap kita merasa terlalu berat, selalu kembalikan dirimu pada Tuhan. Guru adalah profesi yang hebat, dari guru lahir profesi yang berbeda-beda, doktor, insinyur, arsitek, dan banyak profesi lain. Pada akhirnya dalam perjalanan kita, selalu ada tantangan, tapi itulah yang membuat kita kuat, membuat kita semakin bijak. Kita mungkin merasa gaji yang kita dapat terlalu kecil, namun ingat selalu kita ini percaya Tuhan, kita akan mendapatkan bayarannya di akhirat”. (Anik)

http://www.rri.co.id/post/berita/117892/sorotan_kampus/walikota_surabaya_tekankan_dedikasi_dalam_mendidik.html

Leave A Comment