Perubahan Bermula dari Tindakan Sederhana

Pemberitaan media belakangan dihebohkan dengan fenomena Ice Bucket Challenge (IBC), tantangan menyiram air es di kepala. Kegiatan ini sejatinya merupakan penggalangan dana untuk penelitian sekaligus meningkatkan kepedulian melawan penyakit ALS (Amyothropic Lateral Sclerosis), penyakit yang menyerang saraf motorik seseorang.

Berawal dari gerakan organisasi sosial yang melakukan IBC, memfilmkan lalu mengunggahnya ke youtube. Efeknya luar biasa, mereka mampu menyedot perhatian publik di berbagai belahan dunia sehingga ikut berpartisipasi.Nampaknya sederhana, namun tujuan sesungguhnya ingin membuat orang merasakan sensasi beku atau kesulitan bergerak seperti yang dialami penderita ALS.

Isu hangat inilah yang diangkat oleh Prof. Dra. Anita Lie, M.A., Ed.D selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Anita ingin menyampaikan begitu kuatnya dampak perubahan yang bisa dimulai dari diri sendiri, sehingga efek positifnya akan menular pada orang lain.

Materi tersebut mengawali kuliah perdana Pascasarjana Program Magister Manajemen (MM) pada Selasa (26/08), bertempat di Auditorium A201 kampus Dinoyo. Pesertanya merupakan belasan mahasiswa baru pendidikan MM, serta puluhan mahasiswa S-1 yang tertarik dengan materi Kesiapan Perubahan Pribadi.

Pembelajaran ini menggiring peserta terlibat aktif dalam case study sehingga materi lebih mudah diserap dan dipahami. Hasil penilaian membagi peserta dalam empat tim – hijau, biru, ungu, dan merah. Hijau menunjukkan respon positif tinggi, biru dan ungu cenderung berimbang menanggapi situasi antara positif, negatif, dan netral. Sementara merah cenderung menganggap perubahan itu negatif.

Kemudian peserta dikondisikan dalam sebuah kantor yang memiliki cabang baru dan harus memindahkan salah satu karyawannya kesana. Sebagai supervisor, tiap tim harus menyampaikan pada karyawan ini tanpa mengetahui alasan pemindahan tersebut. Sebagai karyawan, mereka juga wajib menjawab tantangan itu. Tiap tim menunjukkan sifat yang berbeda-beda.

Hasilnya tim hijau memperlihatkan karakter strong believer, jalani dulu baru pikir belakangan. Sementara biru menjadi penengah fokus pada kemungkinan positif bila ‘karyawan’ bersedia dipindah. Wakil tim ungu sebagai eksekutor mengalami dilema karena berpikir hal yang dihadapi bisa baik atau buruk. Sedangkan tim merah punya sifat skeptis, selalu berpikir dulu dan mempertanyakan ‘bagaimana dan apa yang harus dilakukan kedepannya?’

“Itu terjadi karena masing-masing individu punya mindset sendiri yang terbentuk oleh pengalaman hidup serta pemikirannya, sebagai bagian dari personality,” jelas Anita antusias.

Kehidupan begitu dinamis selalu ada challenge, faktor yang tidak terprediksi. Sehingga dibutuhkan change, yang sanggup beradaptasilah yang bisa bertahan dan terus berkembang.

“Leader harus mengerti masing-masing karakter anggotanya, sehingga treatment-nya tepat. Seperti wakil tim biru  menggunakan gaya ala Jokowi dalam memimpin. Ia mengajak bawahan yang akan dipindahkan berbincang dalam suasana informal: makan malam, menanyakan kabar keluarganya, bahkan memuji prestasi yang telah dicapai. Sikap tersebut bisa membuat bawahannya tak mudah tersinggung,” tambah Anita.

Memulai suatu perubahan besar pastilah berawal dari suatu hal yang kecil. Sehingga jawaban untuk siapa yang pertama harus berubah ialah diri sendiri. Untuk itu peserta di ajak membuat catatan harian perubahan diri. Tabel ‘Personal Change Readiness Assessment’ tujuannya mengukur perubahan individu dari hal paling sederhana selama seminggu kedepan, diisi berdasarkan lima kriteria: Perencanaan, Rasa Urgensi, Dukungan Pribadi, Fokus Pribadi, Pengaruh Terhadap Hasil/ Resolusi.

Sebagai penutup, Anita Lie membagi ilmu lewat kelas virtual di forum edmodo.com. Siapapun bisa bergabung dan mengunduh semua materi mengenai mata kuliah change management MM UKWMS. “Ternyata pembelajaran di Magister Manajemen terasa begitu menyenangkan,” tutup Elis salah satu peserta dari Fakultas Farmasi. (Lena)

Leave A Comment