Intellectual Capital & Social Transformation, Modal Untuk Bertahan

Jumat (22/8) diadakan kuliah perdana untuk program studi Doktoral Manajemen Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Menghadirkan pembicara Hari Purwantono, dan Ruddy Koesnadi dari Ernst & Young, acara kuliah perdana tersebut mengangkat tema ‘IntellectualCapital & Social Transformation’.“Bonus demografi bisa menguntungkan, apabila kita memiliki intellectual capital dan sanggup menghadapi transformasi sosial,” ujar Prof. Anita Lie, Ed.D. selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya saat membuka acara di Auditorium A201 Kampus UKWMS

Ariston Oki Apriyanta Esa, SE., MA., Ak., selaku moderator mengemukakan bahwa organisasi yang baik bukan storytelling, tetapi time builder. Pemimpin organisasi harus memastikan anggota organisasi agar bisa memiliki intellectual capital yang cukup sehingga mampu bertahan dan berkembang sesuai perkembangan jaman.

“Di masa lalu, karena kita berpikir bahwa intelektual itu milik manusia, maka yang kita pikirkan sebatas human capital saja.Seiring waktu ternyata itu kurang. Jika kita hanya fokus pada human capital, kebaikan yang dimiliki oleh seorang anggota organisasi akan hilang jika yang bisa pergi. Tidak demikian halnya dengan Intellectual capital dibagi 3: human capital,structural (intellectual property dan infrastructural assetscapitalrelationship capital,”urai Ruddy kepada peserta.

Transformasi sosial, adalah suatu kondisi pada saat sebuah organisasi bertindak positif dan diikuti oleh organisasi-organisasi lainnya secara menyeluruh. Hal ini juga berkaitan denganintellectual capital.Analogi lainnya adalah ‘revolusi mental’ yang sering didengungkan oleh tim pemenang pilpres 2014.
Masa kini, internet membuat semua orang bisa bekerja di mana saja dan kapan saja untuk berpartisipasi di ekonomi global. Agar sukses, orang harus menonjol dan proaktif serta sanggup mengatur karirnya sendiri. Organisasi sudah tidakbisa lagi mengusahakan memberikan penghargaan berdasarkan kesetiaan dan lama bekerja. The only way they can survive is by rewarding excellence.  Demikian kutipan dari buku karya Maynard Webb dan Carlye Adler berjudul Rebooting Work. “Hal yang tidak bisa diwakili oleh semua itu adalah kita manusia yang masih perlu bekerja dengan hati,”tambah Ruddy.

Salah satu mahasiswa S3, Julius Runtu mempertanyakan tentang cara yang tepat untuk mengembangkan intellectual capital di organisasi yang dananya terbatas seperti lazimnya di banyak tempat di Indonesia. “Implementasi di EY,untuk intangible asset, memang harus adacapital (modal) yang disisihkan ke organisasi global. Global di sini bukan organisasi yang ada kegiatannya, jadi hanya mengarahkan dan mengatur untuk pengembangan,dan salah satunya di bidang human capital itu. Karena EY global bukan organisasi yang profit oriented, maka semua yang diterima harus kembali 100% ke negara asal yang memberikan. Di Indonesia ada masalah perpajakan yang membuat cara yang sama tidak bisa dilakukan karena tidak bisadipotongkan ke pajak. Regulasi di Indonesia memang belum berpihak kepada keperluan Manajemen Sumber Daya Manusia,” papar Harry kepada peserta.

Lebih lanjut, Harry juga menambahkan contoh tentang bekerja dengan hati. “Staf bukan hanya dianggap sebagai bawahan, tetapi mereka adalah rekan profesional kita. Jadi perlu ada waktu untuk menjalin relasi personal dengan mereka seperti makan bersama semeja. Harus dipikirkan dari awal mereka bergabung sampai saat mereka keluar, harus bisa kitaembrace, agar value yang diajarkan di organisasi ini dibawa sampai kemana pun mereka pergi,” tutupnya.(red)

Leave A Comment