Harta Karun di Balik Kurikulum 2013

Membicarakan kurikulum pendidikan di Indonesia, kadang-kadang membuat seseorang merasa tertarik, namun bisa juga canggung, mengantuk, bahkan putus asa. Untungnya, tidak demikian halnya jika Munif Chatib yang menjadi pemateri. Program Studi Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, menghadirkan Munif Chatib sebagai pembicara dalam Seminar “Harta Karun Dibalik Kurikulum 2013” sekaligus pembimbing dalam workshop pembuatan RPP/ Lesson Plan Penerapan Kurikulum 2013. Bertempat di ruang auditorium 301 kampus Dinoyo UKWMS, acara yang berlangsung dari pkl. 09.00 pagi hingga 17.00 sore ini berhasil menyedot antusiasme dari 200 peserta yang datang dari berbagai kota antara lain Jakarta, Yogyakarta, Mojokerto, Surabaya dan Sidoarjo.

Sebelum menyampaikan materi, Munif mengajak peserta untuk terlebih dahulu mengenal ilustrasi penerapan kurikulum di sekolah hutan rimba. “Apa jadinya jika kelinci yang punya talenta berlari cepat, kita suruh belajar berenang? Remidi sepuluh kali pun belum bisa tuntas.Lalu bagaimana bila Elang yang jago terbang kita suruh menggali tanah? Remidi sebelas kali pun nilainya tidak selamat. Sedihnya, mereka justru perlahan-lahan kehilangan kemampuan aslinya untuk berlari maupun terbang demi memperjuangkan sesuatu yang belum tentu mereka butuhkan. Jika demikian, siapa yang salah?”tanyanya pada peserta.

Zaman sudah jauh berubah,segalanya penuh dengan ketidakpastian dan bergejolak. Masyarakat dunia sudah memasuki peradaban kamera/ visual. Dari situs youtube saja, orang bisa belajar macam-macam mulai dari memasak hingga menjadi pilot. “Kalau sekolah tidak bisa memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan talenta seseorang, jangankan mengikuti jejak negara maju, pendidikan Indonesia akan menjadi bagian dari ‘Jurassic Park’,” ujar Munif setengah berkelakar.

Berdasarkan hasil pertemuan tingkat dunia untuk membandingkan kurikulum pendidikan Negara-negara, kurikulum Indonesia dinilai sebagai yang paling berat. Anak kelas 4 SD harus kenal dan paham keuntungan dan kerugian dari sistem pemerintahan otonomi daerah. Hal serupa di Amerika, diperuntukkan bagi mereka yang menempuh jenjang S2. “Kita harus menguasai perhitungan dengan cara pohon faktor dari SD, padahal sekarang setelah dewasa ditanya, itu untuk apa? Sulit menjawab. Ada kastanisasi mata pelajaran, seorang siswa baru dianggap pintar kalau masuk jurusan IPA. Tapi apakah itu menjamin mereka memiliki kompetensi untuk menghadapi masa depan? Kurikulum kita yang lama sangat lengkap, namun tidak memiliki benang merah antara satu pelajaran dengan yang lain. Akibatnya saat lulus dari sekolah, mereka tidak bisa menjawab untuk apa belajar semua itu,” tutur Munif lebih lanjut.

Kurikulum 2013 mengurangi jumlah mata pelajaran dari SD – SMA. Model Kurikulum untuk SD maupun SMP dibuat dengan metode ‘Tematik Terpadu’. Di jenjang SMA selain mata pelajaran wajib juga ada peminatan, pendalaman. Semua menggunakan pendekatan saintifik dan penilaian otentik 3 ranah yakni afektif, psikomotorik dan kognitif. “Semoga dalam kesempatan ini, peserta dapat belajar membuat silabus pengajaran yang membantu siswa berkembang sesuai minat dan bakat dan kemampuannya” ungkap Ahmad Nurjubaedi selaku Ketua Panitia. (red)

Leave A Comment